#BlogArchive1 .widget-content{ height:100px; width:auto; overflow:auto; }

28 September, 2024

Huntuk dan "Dua Orang Langit" Beda Zaman

 Letak Huntuk

Huntuk secara administrasi terletak di kecamatan Bintauna kabupaten Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara. Huntuk yang dimaksud disini adalah Gunung Huntuk yang saat ini oleh masyarakat lokal menyebutnya "ilanga". Sebagai lokasi awal munculnya peradaban Mongondow, saat ini lokasi yang dimaksud sudah menjadi kawasan hutan belantara.

Huntuk dilihat dari Google Earth

Gumalangit

Di puncak gunung Huntuk (saat ini masuk kecamatan Bintauna),hanya satu orang yang tinggal disana, orang itu bernama Gumalangit, dipercaya turun dari langit.

Suatu ketika Gumalangit menuruni gunung Huntuk dan berjalan di pesisir pantai tiba-tiba dia melihat seorang pria yang berjalan diatas ombak menuju pantai, Gumalangit tidak mengetahui asal usul pria ini. Saat pria ini tiba di pantai tak berselang lama dari balik hempasan ombak yag berbuih muncul seorang perempuan.

Gumalangit memberi nama Tumotoi Bokol (mengendarai ombak) kepada pria itu kemudian yang perempuan diberi nama Tumotoi Bokat (mengendarai buih ombak) oleh Gumalangit.

Diwaktu yang lain, Gumalangit kembali menyusuri pesisir pantai hingga dia kehausan. Gumalangit mengambil sebuah bambu untuk mengisi air. saat berada dimata air bambu telah di isi penuh namun setiap kali akan di minum air dalam bambu telah habis. Gumalangit kembali ke mata air untuk mengisi air dalam bambu namun tetap saja air dalam bambu selalu habis hingga tiba-tiba bambu tersebut meletus dan keluarlah seorang putri cantik berkulit putih. Gumalangit memberi nama putri ini dengan nama Tendeduata (putri dewata).

Gumalangit menikah dengan Tendeduata sementara itu Tumotoi Bokol menikah dengan Tumotoi Bokat. Gumalangit dan Tendeduata memperoleh anak yang diberi nama Dinondong. Tumotoi Bokol dan Tumotoi Bokat mendapatkan anak yang diberi nama Sugeha.

Setelah dewasa Sugeha menikahi Dinondong. beberapa abad kemudian keturunan Sugeha dan Dinondong mulai memadati pemukiman di gunung Huntuk. Komunitas masyarakat yang berasal dari turunan Sugeha dan Dinondong ini membentuk kelompok-kelompok rumpun keluarga yang dipimpin oleh Bogani.

Daya dukung gunung Huntuk kini tidak bisa lagi menjamin jumlah penduduk yang banyak, sumber daya pangan mulai langkah. para Bogani pun bermusyawarah untuk mencari tempat penghidupan baru. Akhirnya secara bergelombang satu persatu kelompok yang ada pergi menuju Pondoli, Sinumolantaan, Ginolantungan, Buntalo. Kelompok yang lain pergi menuju tudu in passi, tudu in lolayan, tudu in sia, Polian hingga Dumoga, Bumbungon dan lain lain.

Beberapa abad kemudian, keturunan dari kelompok-kelompok ini sudah tidak saling mengenal lagi bahkan sering terjadi pertikaian.

Budolangit

Pemukiman dari para keturunan Dinondong-Sugeha yang paling berpengaruh adalah Bumbungon. 
Sekitar abad ke-12, datang seorang laki-laki keturunan langit yang jatuh di Baludawa (Huntuk) Bintauna. Nama laki-laki ini adalah Budolangit. pria ini adalah keturunan Dinondong-Sugeha yang leluhurnya menetap di Bintauna. Dia datang ke negeri Bumbungon dan menikahi seorang putri Bumbungon yang bernama Sandilo. Hasil pernikahan ini membuahkan dua orang anak yang laki-laki bernama Manggopakilat dan perempuan bernama Salamatiti.

Suatu waktu Salamatiti didatangi oleh Malaikat dan tak lama berselang Salamatiti mengandung. Setelah waktu yang cukup, Salamatiti melahirkan seorang anak yang berbentuk telur. Anak inilah yang kemudian dikenal sebagai Mokodoludut kinta Punugumolung, leluhur dari raja-raja Bolaang-Manado dan Siau serta beberapa kerajaan di Sulawesi Utara.

Sumber referensi Buku Mukadimah Celebes Utara Penulis Patra Mokoginta

Buku "Mukadimah Celebes Utara"
diterbitkan oleh KBM Indonesia, Yogyakarta tahun 2024




Identitas Buku "Mukadimah Celebes Utara"



10 Februari, 2022

Sejarah Raja Raja Manado Abad ke-17 (Bagian III / Tamat)

 

Makam Raja Loloda Mokoagow. Sumber Harakah

LOLODA MOKOAGOW

Silsilah Loloda Mokoagow

Loloda Mokoagow lahir tahun 1621. Ibunya bernama Kijaba yang pada awalnya seorang Muslim sebelum akhirnya dibaptis menjadi Kristen pada tahun 1638 sebagaimana telah di urai sebelumnya. Wilken mencatat silsilah Raja-Raja Bolaang Mongondow dalam buku Geslacht In de Taal Van Bolaang Mongondow  bagian "Buk Ouman Sinomongondou'' (Buku hikayat berbahasa Mongondow), berikut penggalannnya terjemahannya "Kemudian Kijaba menikah dengan Tadohe memperoleh anak : Mokoagow yang adalah Datu Binangkang, Mokodompit (Macarompius),dan Konda". Dari Kijaba, Tadohe memperoleh anak 3 orang yaitu : Mokoagow atau lebih popular dengan sebutan Loloda Mokoagow, Mokodompit (Prins Macarompius) dan seorang putri yang bernama Konda.

Silsilah Loloda Mokoagow dari pihak laki laki ( ayah ) garis lurus ke atas : Loloda Mokoagow putera dari Raja Tadohe, Raja Tadohe putera dari Raja Mokodompit, Raja Mokodompit putera dari Raja Makalalo, Raja Makalalo putera dari Raja Busisi, Raja Busisi putera dari Raja Damopolii, Raja Damopolii putera dari Raja Jajubangkai dan Raja Jajubangkai putera dari Raja Mokodoludut.

12 Januari, 2022

Sejarah Raja Raja Manado Abad Ke-17 (Bagian II)

 Konten ini telah tayang di Kompasiana.com Kreator: Patra Mokoginta

Lokasi pengasingan Kaicil Tulo sebelum menjadi Raja Manado

KAICIL TULO

Silsilah Kaicil Tulo.

Garis leluhur Kaicil Tulo di beri tanda dengan kata “bin” yang artinya “anak dari”, berikut silsilahnya di mulai dari Sultan Hamzah : Sultan Hamzah bin Kaicil Tulo bin Khairun Jamil bin Bayanullah bin Zainal Abidin bin Marhum bin Kumala Pulu bin Gapi Baguna bin Momole bin Macahaya bin Abuhayat bin Tulo Malamo bin Sjah Alam bin Arif Malamo bin Ngara Malamo bin Callabata bin Abu Said bin Baab Mansur Malamo bin Syeikh Djafar Noh Al Magribi.

Kaicil Tulo yang dalam catatan Spanyol ditulis Cachil Tulo adalah putra sulung Sultan Khairun Jamil dari Ternate sekaligus kakak tiri dari Sultan Babullah. Kaicil Tulo adalah salah satu raja Manado yang rekam jejaknya juga banyak tercatat dalam dokumen-dokumen Eropa. Di era ini, Raja Manado bukanlah sosok penuh misteri.

Andaya dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kepulauan Rempah Rempah menyebutkan, Sultan Baabullah lahir tanggal 10 Februari 1528 dan wafat tanggal 25 Mei 1583 dalam usia 55 Tahun. Kaicil Tulo disebutkan adalah kakak dari Sultan Baabullah yang berarti Kaicil Tulo lahir sebelum Tahun 1528.

Menurut hasil penelitian dari Jaelan Usman yang berjudul Konflik dan Perubahan Sosial : Study Sosial Politik di Maluku Utara 2006 Kaicil adalah gelar untuk Putra Sultan dan Nyaicil atau Boki untuk Putri Sultan. Jadi Kaicil Tulo berarti Pangeran Tulo, Gelar ini diperoleh karena dia adalah Putra dari Sultan Hairun.

11 Januari, 2022

Sejarah Raja Raja Manado Abad ke-17 (Bagian I)

 Konten ini telah tayang di Kompasiana.com Kreator: Patra Mokoginta

Makam Raja Manado, Dom Fernando. Foto Erwin Makalunsenge

Sekilas tentang Penguasa Manado Abad ke-17

Ketika kita membuka dokumen-dokumen tua abad ke-17, Manado akan selalu bersentuhan dengan dua kekuasaan lokal yakni Bolaang dan Ternate. Dua kekuasaan ini selanjutnya memiliki persentuhan dimulai dengan Portugis, Spanyol, dan VOC-Belanda.

Keterangan yang kita peroleh dari Bolaang baik lewat daftar silsilah maupun tradisi lisan, akan muncul nama raja-raja Bolaang yang ditarik mulai dari Mokodoludut hingga Loloda Mokoagow yang di tradisikan sebagai penguasa Manado secara turun-temurun. Sementara dari kalangan tradisional Maluku Utara mentradisikan bahwa sejak Sultan Baabbullah berkuasa atas 72 negeri (termasuk Manado), kekuasaan Ternate berlaku kontinyu tanpa putus. Namun ada fakta sejarah yang saya temui dimana penguasaan Ternate atas Manado tidak demikian. Kecuali itu maka saya sepakat dengan David Henley yang mengatakan; "penguasaan Ternate atas Manado atau Utara Celebes tidak kontinue melainkan terputus-putus, setidaknya di abad ke-17".

Penguasa Manado abad ke-17 dari kalangan Dinasti Mokodoludut ada tiga orang yakni Raja Mokodompit/Mocodompis, Raja Tadohe / Dom Fernando dan Raja Loloda Mokoagow (Datu Binangkang). Sedangkan dari Dinasti Sultan Hairun Jamil (Sultan Ternate) antara lain; Kaicil Tulo, Sultan Sibori (Pasibori) dan Sultan Mandarsjah. Namun untuk penguasa dari Ternate penulis membatasi pada Kaicil Tulo karena dia yang terekam menyebut dirinya sebagai Raja Manado, King of Manado atau Rey de Manado. Untuk Sultan Sibori dan Sultan Mandarsjah tetap disebut sebagai King of Ternate.

27 September, 2021

Hikayat Mokodoludut versi Sangier Talaud

 

Ilustrasi bayi "dalam telur "

Bekeng Sangiang I Sesebo Si Tomatiti

Su Bolaang Mongondow, su tampa i seseba Molibagu su tempong Kalamona-mona , pia datu i redua sendokateng. Arengu ratu Wililangi, arengu boki Sangiang Ting. I redua pia ana e bawine mang semabu arenge i seseba si Tomatiti. Dalimang dingang gahi u rokai Tomatiti tawe u sarang sengkatau makasilo. Kubekene tangu kere ini: Su tempong tuang Maka lako mempebaele tangu rati Wililangi nekoa lai waele sesane. Tangu suwiwihu waelu ratu bedang pia kalu singkalu geguwa tanitatuwang. Kalu ene iseseh:t kalu lampawanua. Su sensule tempo marani wawelo anai Wililangi si Tomatiti nakoa sarang baele ene mudea kalung dapuhang. Batu u kalung baele kalawokang kawe bedang tarnata, tangu kalune

29 Agustus, 2021

SEJARAH ASAL MULA NAMA BOLAANG DAN MONGONDOW

Ada banyak banyak tulisan baik dalam bentuk artikel, makalah atau buku yang membahas asal mula Penamaan Bolaang dan Mongondow tentunya dengan berbagai versi sesuai referensi masing masing penulis. Pada kesempatan kali ini saya selaku penulis mencoba mengurai asal mula penamaan Bolaang dan Mongondow.

A. BOLAANG

a. Berbagai versi asal mula Nama Bolaang

Ada beberapa versi asal usul nama Bolaang tapi kali ini penulis hanya membatasi versi yang lebih umum di gunakan untuk mempermudah mengurai mana yang tepat yang punya landasan sejarah. Versi asal usul Nama Bolaang antara lain sebagai berikut ini ;

  • Bolaang berasal dari kata Balangon ( Bahasa Mongondow ). 

Balangon berarti lautan. Versi ini lebih umum menjadi pegangan beberapa pihak baik penggiat maupun sejarahwan terkait asal usul nama Bolaang.

  • Bolaang berasal dari kata Gola'ang ( Bahasa Mongondow ). 

Gola'ang berarti terbuka (Pandangan) atau terang tanpa halangan rimbunan pepohonan. Versi ini juga cukup umum bahkan web site resmi pemkab Bolmong menggunakan ini dalam narasi sejarah Bolaang Mongondow sebagaimana terdapat dalam situs https://bolmongkab.go.id/sejarah.

  • Bolaang berasal dari kata Bolawang ( bahasa Manado ). 

Menurut Mantiri, Stella (1990) : Bolawang atau Bulawang, Sama artinya dengan Bulawan ( Bahasa Tonsea ) atau Wulawan ( Bahasa Tombulu ) yang artinya Emas ( Bahasa Melayu ). 

  • Bolaang berasal dari kata Boelang / Boelan ( Bahasa Mongondow ).

Nama ini di ambil dari nama pohon kayu Bulrang  ( baca Bulang) atau kayu Boelan ( Baca Bulan ). Dari Nama Kayu Bulang inilah menjadi Bulang kemudian menjadi Bolang selanjutnya seiring waktu ejaan pun berubah menjadi Bolaang.

Gambar pohon Kayu Boelang / Bulan dengan nama Ilmiah Pisonia alba Span 

16 Januari, 2021

RANGKEAN ABO' JOEGA ABRAHAM MOKOGINTA ( Bagian 3 / Tamat)

 Rangkean ini di tulis Oleh Abo' J.A Mokoginta di Hotel Wilhelminha Manado saat akan menuju lokasi hukuman pembuangannya di Ambon

Hotel Wihelminha Tahun 1930. KITLV

Hotel Wilhelmina No.12 menado Tanggal 9/10 - 1 - 1921



121. Laparpoen djoega tiada datang

         Saja tiada rasa tasiboe

         Karena apa jang kadjadian

         Toehan jang tinggi mengatoer itoe

14 Januari, 2021

RANGKEAN ABO' JOEGA ABRAHAM MOKOGINTA ( Bagian 2)

 

          Rangkean ini di tulis Oleh Abo' J.A Mokoginta di Hotel Wilhelminha Manado saat akan menuju lokasi hukuman pembuangannya di Ambon


Hotel Wihelminha Manado tahun 1906, sumber NYP Library's


Hotel Wilhelmina No.12 menado Tanggal 9/10 - 1 - 1921


51. Di Goeroepahi saja bekerdja
    Satoe tahon ampoenja lama
    Siang dan malam didalam tanah
    Saboelan gadji lima poeloeh rupiah

52. Selama saja kerdja disitoe
     Kerdjanja berat tiada tentoe
     Tjahari koeli bawa kasitoe 
    Masok di loebang membakar batoe

12 Januari, 2021

RANGKEAN ABO' JOEGA ABRAHAM MOKOGINTA (Bagian I )

Rangkean ini di tulis oleh Abo' Joega Abraham Mokoginta di Manado saat akan menuju lokasi hukuman pembuangannya di Ambon
 

Joega Abraham Mokoginta bersama aristoktrat Kerajaan Bolaang Mongondow Tahun 1910.


Hotel Wilhelmina No.12 menado 
Tanggal 9/10 - 1 - 1921
  

    

08 Januari, 2021

SEJARAH ( TAPI BOHONG ) DALAM SENI TEATRIKAL PINGKAN MATINDAS

Teatrikal Pingkan Matindas yang di Sutradari oleh Achi Breyvi Talanggai

Joe Reginella seorang Seniman asal Amerika Serikat, Banyak Karya nya terkait dengan peristiwa yang telah lalu atau biasa di sebut sebagai sejarah. Nama Joe Reginella lumayan tersohor walau kontroversi di kalangan yang tak paham dunia sastra dan seni, ya kalangan awam lah seperti saya ini.

05 Januari, 2021

ANAK PEJABAT

 

Bagian dari buk ouman perihal silsilah Mongondow karya wilken

Jam 4 sore di hari jumat sudah jadi kegiatan rutin saya untuk menembus kabut pegunungan Atoga, Maklum saya mencari nafkah di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur sementara itu kami sekeluarga berdomisili di Kotamobagu, hari senin sampai jumat saya tinggal Bolaang Mongondow Timur, hari sabtu dan minggu saya berdomisili di Kotamobagu.

04 Januari, 2021

PERJUANGAN PANGGULU PASSI MEMBELA RAKYAT PEDALAMAN MONGONDOW


Rakyat Passi (Moyag) Tanggal 21 November 1872

Pedalaman Mongondow yang di masa lampau di sebut Lopa Mogutalong mempunyai dua wilayah adat yang masing masing di pimpin oleh Panggulu yakni  Passi dan Lolayan. Ketika rakyat di dua wilayah adat ini Bersatu maka penjajah colonial pun gentar, bahkan dua kekuatan ini mampu melindungi pemimpinnya ( Raja ) sebagaimana yang terjadi pada Raja Salmon Manoppo bahkan bisa memakzulkan Raja sebagaimana yang di alami oleh Raja AC Manoppo maupun Raja Johanes Manuel Manoppo.

23 November, 2020

SAYA, PATRA MOKOGINTA SUAMI DARI EWIS PONTOH

Target Usia Maksimal 30 Tahun

Mencoba mengingat kembali waktu itu,, Juni 1999 Tidore Provinsi Maluku (Sekarang Maluku Utara) Hari sudah larut malam, gerimis pun sudah reda, di beranda Stadion Marimoi Kota Tidore. Satu persatu  teman teman nongkrong beranjak pulang tersisa sekitar 5 orang yang ngontot melawan ngantuk. Saya ingat saat itu ada kawan Syawal Sanangka, Oman dan beberapa teman teman lain yang semuanya siswa SMA N I Soasio (sekarang Tidore). Percakapan penuh canda mulai serius sampai ngawur sebagai bahan untuk melawan kecemasan pengumuman besok lulus atau tidak. Saat mau bubar, wales (Syawal Sanangka) bertanya dengan ngantuk seakan tidak perlu jawaban. Pat, ente pe cita cita apa? tanya wales tanpa menoleh,saya pun jawab sekena'nya.." jadi orang trus kaweng paling lat usia 30 tahun''. wales pun senyum tanpa menghiraukan jawaban saya. Saya dan Wales yang paling terakhir bubar melawan ngantuk di beranda Stadion Marimoi. Menanti Pengumuman Besok Pagi.

ini Foto Selfie zaman kodak..hehehhe. Doeloe setiap libur entah hari minggu atau hari libur lain pasti di sisipi acara Piknik atau pasiar.
Dalam gambar ini saya (Patra Mokoginta) Paling depan, di tengah ada Junaidi Saleh dan berkacamata kawan Raden Karta Debrata, foto tahun 1998 di dekat benteng spanyol kelurahan Rum  Pulau Tidore.

15 November, 2020

Restu Bumi Mokoginta

 Hampir 20 Tahun lalu,  saat masih bergelut dengan Dunia Kampus UDK, saat itu saya ingat sekali dunia internet adalah 'barang langka' untuk anak anak muda Kotamobagu, warnet dengan jaringan super loading perjam seharga 15 ribu saat itu dengan efektif penggunaan tidak lebih 20 menit karna harus sabar menghadapai si loading..

Memiliki Imel kala itu merupakan suatu yang keren,,, yah keren. Jadi ingat imel pertama di buat oleh adik saya bernama Ipul Gumalangit, saat sesi membuat pasword terjadi dialog saya dengan ipul :

06 Oktober, 2020

Keisha Aylakiva Mokoginta

Puteri Yang Menjadi Berkah Keluarga

Bulan Desember 2010, Saat masi kerja sebagai Fasilitator PNPM Lingkungan Mandiri Pedesaan , saya meluangkan waktu untuk mengikuti tes CPNS kabupaten Bolaang Mogondow Timur. Akhir Desember 2010 nama muncul di koran dengan judul nama nama yang lulus seleksi CPNS Pemkab Bolaang Mongondow Timur. Ada rasa haru luar biasa, senang sekaligus mematahkan mitos bahwa seleksi cpns 'butuh modal' dan ternyata tidak berlaku setidaknya untuk saya pribadi. Hati teramat senang dengan puji syukur menyampaikan informasi ini ke kedua orangtua yang saat itu berada ada di Tidore. Dan beberapa hari kemudian saya pun di resain (bahasa lain dari kata pecat) sebagai Fasilitator PNPM LMP karena di anggap telah lulus dalam seleksi CPNS 2010.
Bulan Juni 2011 saya menikah , dan sebagai Kepala Keluarga baru cukup gerah menunggu Kapan NIP CPNS terbit bahkan sudah di tes ulang. Upaya perjuangan untuk mendapatkan Hak selaku warga negara yang telah mengikuti dan Lulus seleksi CPNS. Perjuangan yang panjang di iringi aksi bersama kawan kawan senasib. Rasa Galau dengan ketidak pastian nasib di tambah sang isteri tercinta belum juga ngidam, sungguh penantian doble yang luar biasa.

10 April, 2013

Nama Pohon dalam bahasa Bolaang Mongondow Raya (Save Forest)


Nama Pohon dalam bahasa Bolaang Mongondow Raya
 di sertai nama Botani

kisi kisi Pilkada di calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya


PESTA PERNIKAHAN SEORANG KAWAN

Bagi saya, hal membuat galau tiap bulan adalah di saat tanggal tua kita mendapat undangan pesta kawin secara beruntun, wOw kenapa bisa begitu?? Yeaah maklumlah bagi seorang Budak / Abdi Negara seperti saya, akan keteteran memenuhi tradisi pogutat. Tradisi Pogutat dulunya bertujuan saling membantu secara ikhlas ketika ada angota masyarakat melaksanakan hajatan, Bantuan ini dapat berupa;  ayam, beras dll. Tradisi Bolaang Mongondow yang unik dan mulia ini kayaknya sekarang polanya sudah bergeser kearah mirip arisan, dalam bahasa gaul kotatamobagu ‘Baku balas ba sokong’, artinya dorang kase 10ribu torang balas lei 10ribu. Saya pun bingung, sebenarnya Sejak kapan nilai nilai pogutat ini bergeser dari baku bantu secara ikhlas sesuai kemampuan menjadi baku bantu system arisan. Pernah hal ini saya tanyakan ke beberapa teman teman yang sejak lahir, tinggal di Bolaang Mongondow Raya dan jawaban yang saya dapatkan; ngana Tanya jo pa ETA !! ETA siapa sih??? Eeeee..TAuuuu leeeeeey .. ahh pusing amat si amat aja ngga pernah pusing !!.
Beberapa hari silam saya berusaha memenuhi undangan pesta pernikahan dari seorang kawan. Beberapa tahun lalu saat pesta pernikahan saya, kawan ini tidak saya undang karena belum saling kenal, tapi tak apalah saya tidak akan ambil pusing dengan ‘pogutat modern’ (system arisan).
Dengan menumpang bentor keren saya pun berangkat menuju pesta pernikahan, bentor yang saya tumpangi cukup keren dengan sound system yang ok punya, music pun di putar.. wOw baru dengarin hentakan bass lagu ini saya sudah tersenyum, dalam hati pasti lagu KEKIRI-KEKANAN lagu RnB dari Ambon.. tapi wadow !! lagunya aneh bangeet.. tidak keren n gaul lagi, sudah di '"bajak" sama artisnya kandidat pilwako kotamobagu..ckckckckc. ahh pusing amat si amat aja ngga pernah pusing !!.

09 April, 2013

Terbelenggunya PPNS Kehutanan


Rimbawan Alumni Fakultas Kehutanan UDK

Ironis, demikian kata yang pantas ketika melihat laju kerusakan hutan di Indonesia. Sekilas di mata masyarakat awam jika di Tanya siapa yang paling bertanggung jawab terhadap laju kerusakan hutan maka akan di jawab Dinas kehutanan. Jawaban spontan yang perlu di perdebatkan lagi. Sangat  ironis ketika para Punggawa Rimbawan yang bernama Pejabat Pegawai  Negeri Sipil Kehutanan (PPNS Kehutanan) ternyata terpasung dan terbelenggu . Sebagai penyidik tapi tak memiliki kewenangan lebih sesuai bidangnya.

08 April, 2013

LIRIK LAGU MARS RIMBAWAN


SERUAN RIMBA


Hai Perwira rimba raya, Mari kita bernyanyi,
Memuji hutan rimba, Dengan lagu yang gembir,
Dan nyanyian yang murni, Meski sepi hidup kita,
Jauh di tengah rimba, Tapi kita gembira sebabnya kita bekerja,
Untuk nusa dan bangsa.